Variabilitas Iklim Indonesia September
dan Prediksi Oktober 2009
Kondisi Curah Hujan
Intensitas curah hujan rata-rata di wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) selama perioda 1-30 September 2009 bernilai rendah sampai sedang (0-8 mm/hari), kecuali di Papua yang intensitas curah hujannya cukup besar (10-12 mm/hari), lihat Gambar 1.
Gambar 1. Intensitas curah hujan rata-rata 30 hari terakhir, dari tanggal 1-30 September 2009; dalam satuan mm/hari.
(Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov)
Sebagian besar wilayah BMI mengalami anomali curah hujan negatif antara -2 sampai -5 mm/hari, kecuali di sebagian wilayah Sumatra Utara dan sebagian Papua yang mengalami anomali curah hujan positif dengan nilai +2 sampai +4 mm/hari, lihat Gambar 2.
Gambar 2. Anomali intensitas curah hujan rata-rata 30 hari terakhir, tanggal 1-30 September 2009; dalam satuan mm/hari.
(Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov)
Kondisi Iklim Ekstrem
Dari Gambar 3 sampai 6 terlihat bahwa wilayah Benua Maritim Indonesia beberapa kali mengalami kondisi iklim ekstrim pada perioda 26 Agustus – 29 September 2009. Pada minggu kedua September 2009 terdapat kondisi ekstrem panas di sebagian Sumatera Bagian Selatan, sebagian besar Kalimantan dan sebagian besar Sulawesi, lihat Gambar 4. Pada minggu ketiga September 2009 terdapat kondisi ekstrim panas di sebagian besar Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

|
|
Gambar 3. Kondisi iklim ektrem, minggu ke-1 September 2009. |
Gambar 4. Kondisi iklim ektrem, minggu ke-2 September 2009. |
|
|
Gambar 5. Kondisi iklim ektrem, minggu ke-3 September 2009. |
Gambar 6. Kondisi iklim ektrim, minggu ke-4 September 2009. |
Sumber Gambar 3-6: http://ds.data.jma.go.jp/tcc/tcc/products/climate/sokuho.html |
Kondisi Samudera Pasifik
Anomali suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature – SST) selama sepekan di bulan Agustus (16-22 Agustus 2009) menunjukkan suhu permukaan laut mengalami anomali positif antara 2 – 3 derajat Celcius di Pasifik timur (1100 BB). Pemanasan antara 0.5 hingga 1 derajat Celcius terjadi di Pasifik tengah dan barat. Di sekitar wilayah Indonesia timur, SST pun meningkat sekitar 0.5 derajat Celcius, lihat Gambar 7. Kondisi yang hampir sama terjadi pada bulan September. Pemanasan suhu permukaan laut lebih merata dengan anomali tertinggi terkonsentrasi di Pasifik tengah dan Pasifik timur (120 Bujur Barat), lihat Gambar 8.
Gambar 7. Anomali SST di Pasifik ekuator 16-22 Agustus 2009
( Sumber: http://www.cpc.noaa.gov )
Gambar 8. Anomali SST di Pasifik ekuator 21-25 September 2009
( Sumber: http://www.cpc.noaa.gov )
Tampak pula bahwa SST di Pasifik timur (80-1300 BB) lebih tinggi dibandingkan wilayah di Pasifik tengah dan barat. Sementara pada bulan September, anomali SST terjadi secara merata antara 0.5-20C, lihat Gambar 9.

Gambar 9. Suhu Permukaan Laut di Samudra Pasifik ekuator
(Oktober 2008-September 2009)
(Sumber: http://iri.columbia.edu)
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 memperlihatkan kenaikan suhu mencapai +0.7 0Celcius yang dikategorikan sebagai El Nino lemah. Kondisi ini terjadi sejak awal Juni lalu. Meski jika dibandingkan dengan anomali suhu permukaan laut pada bulan Juli lalu, tampak terjadi penurunan suhu selama bulan Agustus, lihat Gambar 10.

Gambar 10. Anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4
(Sumber: http://iri.columbia.edu)
Selanjutnya, peluang terjadinya El Nino pada September 2009, menurut lembaga riset Internasional - IRI, adalah 85 persen sampai Desember 2009. Peluang ini tampak lebih besar jika dibandingkan dengan peluang yang dirilis pada bulan Juli lalu yaitu 80 persen hingga Desember 2009. Sementara itu peluang kondisi netral juga lebih kecil jika dibandingkan bulan lalu, hanya 14-17 persen hingga Desember (bulan Juli peluang netral 17-20 persen hingga Desember). Sementara itu, peluang La Nina 1 persen. Hal ini terlihat pada Gambar 11.
|
|
Gambar 11. Peluang El Nino di kawasan Nino 3.4 Oktober 2009-Juli 2010
(Sumber: http://iri.columbia.edu) |
Kondisi Samudera Hindia
Indeks Dipole Mode pada bulan September rata-rata negatif. Dipole Mode negatif berarti suhu muka laut di bagian barat Sumatera lebih panas sehingga mengaktifkan proses konveksi atau proses pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat terutama Sumatera, lihat Gambar 12.

Gambar 12. Indeks Dipole Mode di Samudra Hindia
(Sumber: http://www.jamstec.go.jp)
Kondisi Monsun

Gambar 13. Kondisi monsun 29 September 2009
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov
Pola angin di Indonesia bagian selatan menunjukkan menurunnya konsistensi pengaruh daratan Australia yang dapat menyebabkan adanya uap air di selatan Jawa. Namun Aliran angin dari India ke timur sampai semenanjung Cina bisa menarik uap air di atas Jawa lebih ke utara. Pola angin dari Australia yang tidak teratur menjadi tanda awal peralihan musim.
Fluktuasi indeks monsun Asia timur diprediksi menguat sampai di atas normal sampai pertengahan Oktober dapat menyebabkan hujan di atas normal bagi wilayah timur Indonesia, lihat Gambar 14.
Indeks monsun Australia diprediksi naik di atas normal di awal bulan oktober, kemudian berfluktuasi sekitar normal. Kondisi ini dapat menyebabkan kejadian hujan yang rendah untuk wilayah selatan Indonesia, lihat Gambar 15.
Indeks monsun India diprediksi berfluktuasi di atas normal sampai pertengahan Oktober. Kondisi ini dapat menyebabkan hujan di atas normal di barat laut wilayah Indonesia seperti Sumatera utara, lihat Gambar 16.
Kondisi MJO
Gambar 17. Anomali OLR mingguan 29 Agustus-27 September 2009
Sumber: www.cpc.noaa.gov
Gambar 18. Anomali OLR bulanan 31 Agustus-25 September 2009
Sumber: www.cpc.noaa.gov
Anomali OLR mengindikasikan bahwa pada pekan pertama bulan September, OLR antara 10-20 W/m2 di wilayah Pasifik ekuator sementara di timur Papua, anomali OLR menurun sekitar negatif 20 W/m2.
Pada pekan kedua September, anomali OLR di wilayah Pasifik ekuator cenderung normal. Di wilayah Indonesia, peningkatan anomali OLR sangat tajam yaitu antara 20-30 W/m2. Pada pekan ketiga September, OLR di timur Papua mengalami anomali negatif antara negatif 20-30 W/m2. OLR di wilayah Pasifik ekuator cenderung normal.
Gambar 19. MJO 21 Agustus-29 September 2009
Sumber: www.cpc.noaa.gov
Gambar 20. MJO 30 September-14 Oktober 2009
Sumber: www.cpc.noaa.gov
MJO berada pada fase aktif di Benua Maritim Indonesia selama September kecuali selama pekan kedua, MJO non-aktif. Prediksi MJO hingga 14 Oktober menunjukkan akan berada pada fase aktif di Benua Maritim Indonesia.
Kesimpulan
Selama bulan September, curah hujan rata-rata di Jawa, Kalimantan, Sulawesi antara 0-3 mm/hr. Sumatra Utara (Medan) curah hujan tinggi sekitar 20 mm/hr. Papua 5-10 mm/hr. Pola angin di Indonesia bagian selatan masih menunjukkan menurunnya konsistensi pengaruh daratan Australia menjadi tanda awal peralihan musim. Indeks Nino 3.4 masih sekitar 0.70C yang menunjukkan El Nino lemah. Dipole Mode normal cenderung negatif selama September sekitar -4. MJO berada pada fase aktif di Benua Maritim Indonesia selama September. Suhu panas ekstrem terjadi pada pekan kedua hingga ketiga September di Indonesia bagian tengah (sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua).
Prediksi bulan Oktober, peluang El Nino 89 % pada Oktober dan menurun hingga 73 % pada Februari 2010. El Nino akan menguat hingga mendekati +2 pada Februari 2010. MJO hingga 14 Oktober akan berada pada fase aktif di Benua Maritim Indonesia. Dipole Mode akan menetap pada kondisi normal hingga April 2010. Indeks monsun Australia diprediksi di atas normal pada awal bulan oktober, kemudian berfluktuasi sekitar normal. Kondisi ini dapat menyebabkan kejadian hujan untuk wilayah selatan Indonesia. Fluktuasi indeks monsun Asia Timur diprediksi masih menguat sampai di atas normal sampai pertengahan Oktober dapat menyebabkan hujan di atas normal bagi wilayah timur Indonesia. Indeks monsun India diprediksi masih berfluktuasi di atas normal sampai pertengahan Oktober. Kondisi ini dapat menyebabkan hujan di atas normal di barat laut wilayah Indonesia seperti Sumatera utara.
|