ENGLISH SITEMAP SITUS INTERNAL          
 

 

>>> DINAMIKA ATMOSFER

 

Update : Agustus 2009

 

Variabilitas Iklim Indonesia Agustus 2009
dan Prediksi September 2009

 

Kondisi Curah Hujan

Intensitas curah hujan rata-rata di wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) selama perioda 1-30 Agustus 2009 bernilai rendah sampai sedang (2-8 mm/hari), kecuali di wilayah kepala burung Irian Jaya yang memiliki intensitas curah hujan cukup besar (10-12 mm/hari), lihat Gambar 1. Sebagian besar wilayah BMI mengalami anomali curah hujan negatif antara -2 sampai -5 mm/hari, kecuali di sebagian wilayah Sulawesi dan kepala burung Irian Jaya yang mengalami anomali curah hujan positif dengan nilai +2 sampai +4 mm/hari, lihat Gambar 2.

1
Gambar 1. Intensitas curah hujan rata-rata 30 hari terakhir, dari tanggal  3 Agustus  sampai 2 September 2009; dalam satuan mm/hari. (Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov)

2
Gambar 2. Anomali intensitas curah hujan rata-rata 30 hari terakhir, dari tanggal 3 Agustus  sampai 2 September 2009; dalam satuan mm/hari. (Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov)

 Kondisi Iklim Ekstrem

Dari Gambar 3 sampai 6 terlihat bahwa wilayah Benua Maritim Indonesia tidak mengalami kondisi iklim ekstrim pada perioda 29 Juli – 25 Agustus 2009.

3

4

Gambar 3. Kondisi iklim ektrim, minggu ke-1 Agustus 2009.

Gambar 4. Kondisi iklim ektrim, minggu ke-2 Agustus 2009.

5

6

Gambar 5. Kondisi iklim ektrim, minggu ke-3 Agustus 2009.

Gambar 6. Kondisi iklim ektrim, minggu ke-4 Agustus 2009.

Sumber Gambar 1-4: http://ds.data.jma.go.jp/tcc/tcc/products/climate/sokuho.html

 Kondisi Samudera Pasifik

Anomali suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature – SST) selama sepekan di bulan Agustus (16-22 Agustus 2009) menunjukkan suhu permukaan laut mengalami anomali positif antara 2 – 3 derajat Celcius di Pasifik timur (1100 Bujur Barat - BB). Pemanasan antara 0.5 hingga 1 derajat Celcius terjadi di Pasifik tengah dan barat. Di sekitar wilayah Indonesia timur, SST pun meningkat sekitar 0.5 derajat Celcius (lihat Gambar 7).

7

 Gambar 7. Anomali SST di Pasifik ekuator 16-22 Agustus 2009
( Sumber: http://www.cpc.noaa.gov )

Gambar 8 menjelaskan bahwa selama Agustus, peningkatan SST terjadi secara lebih merata di wilayah Pasifik ekuator jika dibandingkan bulan Juli. Tampak pula bahwa SST di Pasifik timur (80-1300 BB) lebih tinggi dibandingkan wilayah di Pasifik tengah dan barat.

8

Gambar 8. Suhu Permukaan Laut di Samudra Pasifik ekuator
(September 2008-Agustus 2009)
 (Sumber: http://iri.columbia.edu)

Kondisi suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 memperlihatkan kenaikan suhu mencapai +0.7 0Celcius yang dikategorikan sebagai El Nino lemah. Kondisi ini terjadi sejak awal Juni lalu. Meski jika dibandingkan dengan anomali suhu permukaan laut pada bulan Juli lalu, tampak terjadi penurunan suhu selama bulan Agustus (lihat Gambar 9).

9
Gambar 9. Anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4
(Sumber: http://iri.columbia.edu)

Selanjutnya, peluang terjadinya El Nino pada September 2009, menurut lembaga riset iklim Internasional - IRI, adalah 85 persen sampai Desember 2009. Peluang ini tempak lebih besar jika dibandingkan dengan peluang yang dirilis pada bulan Juli lalu yaitu 80 persen hingga Desember 2009. Sementara itu peluang kondisi netral juga lebih kecil jika dibandingkan bulan lalu, hanya 14-17 persen hingga Desember (bulan Juli peluang netral 17-20 persen hingga Desember). Sementara itu, peluang La Nina 1 persen. Hal ini terlihat pada Gambar 10.

1011 

 Gambar 10. Peluang El Nino di kawasan Nino 3.4  September 2009-Juni 2010
(Sumber: http://iri.columbia.edu)

 Kondisi Samudera Hindia

Indeks Dipole Mode positif  akan mempengaruhi perpindahan massa udara ke arah barat atau proses pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia bagian barat terutama Sumatera berkurang, namun pengaruh ini tidak akan terlalu kuat mengingat index berada dalam kisaran kurang dari +0.5. Sehingga kondisi ini berada pada rentang normal (lihat Gambar 11).

12

Gambar 11. Indeks Dipole Mode di Samudra Hindia
(Sumber: http://www.jamstec.go.jp)

Kondisi Monsun

13 

Gambar 12. Kondisi monsun 27 Agustus 2009
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov

Pola angin di Indonesia bagian selatan menunjukkan menurunnya konsistensi pengaruh daratan Australia yang dapat menyebabkan adanya uap air di selatan Jawa. Namun aliran angin dari India ke timur sampai semenanjung Cina bisa menarik uap air di atas Jawa lebih ke utara. Pola angin dari Australia yang tidak teratur menjadi tanda awal peralihan musim.
Fluktuasi indeks monsun Asia timur diprediksi menguat sampai di atas normal sampai awal September dapat menyebabkan hujan di bawah normal bagi wilayah timur Indonesia, lihat Gambar 13.


14

15

Gambar 13. Indeks monsun Asia-Pasifik dan anomalinya
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/

Indeks monsun Australia diprediksi berfluktuasi di atas normal. Hal ini akan menyebabkan hujan untuk wilayah selatan Indonesia.

16

17

Gambar 14. Indeks monsun Australia dan anomalinya
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/

Indeks monsun India diprediksi berfluktuasi di atas normal sampai awal September. Hal ini akan menyebabkan hujan di barat laut wilayah Indonesia seperti Sumatera utara.


18

19

Gambar 15. Indeks monsun India dan anomalinya
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/

 Kondisi MJO dan OLR

20

Gambar 16. Anomali OLR mingguan 30 Juli-28 Agustus 2009
Sumber: www.cpc.noaa.gov

Anomali OLR mengindikasikan bahwa pada pekan pertama bulan Agustus, OLR meningkat sekitar 20 W/m2 di wilayah Pasifik ekuator barat dan tengah, sementara di sekitar Papua OLR menurun sekitar  negatif 10 W/m2. Di Pasifik timur, peningkatan OLR sekitar 10 W/m2, lihat Gambar 16.
Pada pekan kedua Agustus, wilayah di Pasifik ekuator yang mengalami peningkatan OLR menyempit dan hanya terjadi di wilayah Pasifik tengah. Di sekitar Papua, nilai OLR juga meningkat pun. Demikian pula yang terjadi pada pekan ketiga Agustus. Peningkatan OLR hanya terjadi di wilayah Pasifik tengah sementara OLR di Papua semakin meningkat.   


  21

Gambar 17. MJO 21 Juli-29 Agustus 2009
Sumber: www.cpc.noaa.gov

22

 

Gambar 18. MJO 30 Agustus-13 September 2009
Sumber: www.cpc.noaa.gov

Pada bulan Agustus, MJO kuat terjadi di wilayah Afrika (kuadran 1 dan 2). Pada akhir Agustus MJO lemah terjadi di Benua Maritim Indonesia. Pada bulan September, MJO diprediksi berada pada fase yang lemah lalu menguat hingga tanggal 13 September.  

Kesimpulan

Selama bulan Agustus, tidak terjadi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, kecuali sebagian besar Sumatra dan Papua. Indonesia bagian selatan mengalami kondisi yang lebih kering dari Indonesia bagian utara.
Suhu di Samudra Pasifik meningkat +0.7C. Terjadi kolam panas di Pasifik  timur pada minggu pertama bulan Agustus yang berlangsung sejak bulan Juli. Tetapi pada  minggu kedua bulan Agustus, kolam hangat bergeser ke Pasifik tengah.
Dipole Mode Samudra Hindia dalam kondisi normal. Anomali OLR negatif di sekitar Papua dan positif di Pasifik tengah ekuator. Osilasi MJO aktif dan kuat terjadi di wilayah Afrika dan di Benua Maritim Indonesia pada akhir Agustus namun lemah.  Pola angin dari Australia yang tidak teratur di Selatan Indonesia menjadi tanda awal peralihan musim.
 Prediksi bulan September menyatakan kondisi kurang hujan akan terjadi di wilayah selatan dan timur Indonesia, sementara barat daya Indonesia akan mengalami cukup hujan karena monsun India diprediksi menguat tajam. Osilasi MJO akan aktif dan kuat diprediksi berada di wilayah Benua Maritim Indonesia, kemungkinan dapat memicu pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia.

 

<<< BACK ^ UP

Disajikan oleh


Bidang Pemodelan Iklim
Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim
Phone (022) 6037445 ; Fax. (022) 6037443
E-Mail: moklim@bdg.lapan.go.id
URL: http://www.bdg.lapan.go.id/moklim

 

 

 
 
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional - LAPAN
Jl. DR. Djunjunan 133 Bandung 40173 Indonesia
About site