Variabilitas Iklim Indonesia Bulan Juli 2009 dan Prosfektifnya Beberapa Bulan Mendatang
Kondisi Curah Hujan Indonesia
Dari satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), selama bulan Juli 2009 rata-rata intensitas curah hujan di Indonesia pada rentang 2 hingga 8 mm/hari, kecuali di wilayah Kepala Burung Papua intensitas curah hujannya lebih tinggi yaitu 10-12 mm/hari seperti terlihat pada Gambar 1. Dibandingkan dengan kondisi normalnya, intensitas curah hujan di wilayah Indonesia sedikit di bawah normal kecuali sebagian wilayah Sulawesi dan Kepala Burung Irian Jaya lebih dari normal sebesar +2 sampai +4 mm/hari (lihat Gambar 2).
Gambar 1. Intensitas curah hujan rata-rata 30 hari terakhir sampai 31 Juli 2009 (perioda 2 sampai 31 Juli 2009); dalam satuan mm/hari.
(Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov)

Gambar 2. Anomali intensitas curah hujan rata-rata 30 hari terakhir sampai 31 Juli 2009 (perioda 2 sampai 31 Juli 2009); dalam satuan mm/hari.
(Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov)
Kondisi Samudera Pasifik
Pada akhir bulan Juli, suhu permukaan laut di Pasifik timur dan tengah mengalami peningkatan suhu antara 0.5 hingga 1 derajat celcius. Suhu permukaan laut di Pasifik barat relatif normal (lihat Gambar 3).

Gambar 3. Anomali SST di Pasifik ekuator 25-29 Juli 2009.
( Sumber: http://www.cpc.noaa.gov )
Sejak Mei 2009, suhu permukaan laut di Nino 3.4 mengalami peningkatan suhu terhadap normal dan pada Juli kenaikan suhu hingga hampir satu derajat yang dikategorikan sebagai El Nino lemah (lihat Gambar 4).

Gambar 4. Anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4
(Sumber: http://iri.columbia.edu)
Peningkatan suhu di Pasifi perlu terus dipantau, karena berpengaruh pada variabilitas iklim Indonesia khususnya wilayah bagian timur. NOAA membuat prediksi suhu permukaan laut di sekitar Pasifik ekuator akan mengalami kenaikan 0.5 hingga 1 derajat celcius untuk rata-rata juli, Agustus dan September 2009 (lihat Gambar 5).

Gambar 5. Prediksi Anomali Suhu Permukaan Laut Juli-September 2009
( Sumber: Climate Prediction Center http://www.cpc.noaa.gov )
Kondisi Samudera Hindia
Pada bulan Juli 2009, kondisi Samudera Hindia normal ditandai dengan Indeks Dipole Mode sedikit diatas nol (lihat Gambar 6).

Gambar 6. IOD tiga tahun terakhir
(Sumber: http://www.jamstec.go.jp)
Kondisi Monsun
Gambar 7. Kondisi monsun 4 Agustus 2009
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov
Pola angin selatan Indonesia menunjukkan konsistensi pengaruh daratan Australia yang menyebabkan kurangnya uap air di atas Indonesia bagian selatan meliputi Jawa, Sulawesi bagian selatan, Kalimantan Selatan dan Sumatera bagian selatan.
Selama bulan Juli, kondisi monsun Asia Timur berfluktuasi dan diprediksi sampai dengan pertengan Agustus sehingga dapat menyebabkan anomali hujan di bawah normal untuk wilayah timur Indonesia (lihat Gambar 8).
|
|
Gambar 8. Indeks monsun Asia-Pasifik dan anomalinya |
Indeks monsun Australia diprediksi berfluktuasi diatas normal dengan simpangan cenderung diatas normal menyebabkan kurangnya hujan dan kecil kemungkinan adanya hujan dengan intensitas tinggi.
|
|
Gambar 9. Indeks monsun Australia dan anomalinya |
Indeks monsun India diprediksi berfluktuasi dibawah sampai normal di pertengahan Agustus ditandai dengan kondisi cukup hujan di barat laut wilayah Indonesia.
|
|
Gambar 10. Indeks monsun India dan anomalinya |
Kondisi OLR dan MJO
Pada awal sampai pertengahan Juli 2009, konveksi aktif terjadi di Lautan Hindia bagian barat, Laut Cina Selatan, dan Pasifik tropis barat, sementara di daerah Lautan Hindia bagian selatan dan Indonesia konveksi kurang. Dan antara pertengahan sampai akhir Juli, konveksi meluas ke arah timur wilayah Lautan Pasifik bagian barat dan berkurang di daerah India dan laut Hindia bagian bagian barat (lihat Gambar 11).
Gambar 11. Anomali OLR
Sumber: www.cpc.noaa.gov
Selama minggu terakhir Juli 2009, MJO lemah (Gambar 12(a)) dan diperkirakan awal Agustus lebih kuat namun terjadi di daerah Pasifik barat (Gambar 12(b)).
(a)
|
(b)
|
Gambar 12.( a) Kondisi MJO 16 Juni 2009 – 25 Juli 2009, (b) Prediksi MJO 26 Juli 2009 – 9 Agustus 2009.
Sumber: www.cpc.noaa.gov |
Kesimpulan
Selama bulan Juli, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat dan terjadi El Nino lemah, dengan indeks mendekati +1. Indeks Dipole Mode di Samudra Hindia dalam kondisi normal meski cenderung positif.
Selama Bulan Juli tidak terjadi iklim ekstrem. Meskipun begitu, anomali curah hujan terjadi di seluruh kawasan Indonesia yaitu antara -5 hingga -10 mm/hari. Pada pertengahan sampai akhir Juli, MJO berada dalam status lemah dan terjadi di kawasan BMI. Pola angin selatan Indonesia menunjukkan konsistensi adanya pengaruh daratan Australia yang menyebabkan kurangnya uap air di atas Indonesia bagian selatan meliputi Jawa, Sulawesi selatan, Kalimantan Selatan dan sebagian Sumatera selatan.
Prediksi Bulan Agustus menunjukkan kemungkinan kondisi El Nino lemah. Hal ini akan berdampak pada pelemahan sirkulasi Walker yaitu intensitas pergerakan angin dari Samudera Pasifik menuju wilayah Indonesia melemah. Fluktuasi indeks monsun Asia timur diprediksi melemah sampai dibawah normal sampai pertengahan Agustus dapat menyebabkan anomali hujan di bawah normal bagi wilayah timur Indonesia. Indeks monsun Australia diprediksi berfluktuasi di atas normal selama Agustus sehingga kecil kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi di wilayah selatan Indonesia selama bulan Agustus. Kombinasi El Nino lemah dan monsun Australia yang cenderung menguat di atas normal ini akan membentuk sifat musim kemarau menjadi lebih kering di Indonesia terutama di Jawa, Sumatra selatan, Kalimantan selatan, Sulawesi selatan.
|