Variabilitas Iklim Bulan Juni 2009 dan Prospektifnya
Beberapa Bulan Mendatang
Kondisi Curah Hujan
Selama bulan Juni, intensitas curah hujan rata-rata yang turun di wilayah Indonesia antara 5-20 milimeter/hari. Curah hujan yang cukup tinggi terjadi di sebagian wilayah papua yaitu sekitar 20 milimeter per hari (lihat Gambar 1).

Gambar 1. Intensitas curah hujan bulanan, (01 Juni – 30 Juni 2009)
(Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/thirty_day.html)
Anomali curah hujan di wilayah Indonesia memiliki nilai negatif yang berarti intensitas curah hujan dibawah kondisi normal. Namun untuk beberapa wilayah seperti Papua, sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi mengalami hujan yang berlebih (anomali curah hujan positif 5-10 milimeter per hari), lihat Gambar 2.

Gambar 2. Anomali intensitas curah hujan bulanan, (01 Juni – 30 Juni 2009)
(Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/thirty_day.html)
Status ENSO
Peningkatan suhu permukaan laut terjadi di wilayah Pasifik ekuator tengah (Nino 3.4) hingga mendekati nilai 1 (Gambar 3), dan digolongkan sebagai El Nino lemah. Peningkatan suhu di Samudra Pasifik yang melebihi kondisi normal ini berakibat pada pelemahan sirkulasi Walker. Sehingga angin timuran yang dihasilkan oleh sirkulasi Walker dari Pasifik menuju Indonesia akan melemah. Pelemahan angin timuran ini akan mengurangi proses konveksi di atas Indonesia, dan sebaliknya konveksi lebih banyak terjadi di wilayah Pasifik. Peluang terjadinya El Nino lemah hingga sedang diprediksi bakal terjadi hingga Bulan September, dengan peluang sebesar 63 persen (lihat Gambar 4).

Gambar 3. Kondisi Anomali (indeks) SST di wilayah Nino 3.4 20-27 Juni
(Sumber: http://iri.columbia.edu/climate/forecast//sst/)

Gambar 4. Peluang terjadinya El Nino, La Nina, dan kondisi normal
Juni 2009-Mei 2010
Sumber: ( www.portal.iri.columbia.edu )

Gambar 5. Arus balik di lintang ekuator wilayah 20E-100W selama 20-27 Juni 2009
( Sumber: http://ds.data.jma.go.jp/ )
Pada Gambar 5 tampak bahwa arus balik ekuator (menuju timur) di Samudra Pasifik menguat terutama di wilayah 140-180 E. Hal ini terjadi karena efek dari pemanasan yang meningkat di Pasifik telah mengakibatkan terbentuknya daerah konvergensi di Samudra Pasifik sehingga arus balik ekuator pun menguat, dari wilayah Indonesia menuju Samudra Pasifik.
Sebagai perbandingan, arus balik ekuator pada saat Indonesia mengalami El Nino kuat pada Juni 1997 diperlihatkan pada Gambar 6. Dimana arus balik ekuator di Samudra Pasifik tampak sangat kuat. Dan kondisi angin zonal permukaan di wilayah Pasifik didominasi oleh angin baratan dengan kecepatan hingga 4 m/s. Hal ini terjadi karena di Pasifik pemanasan meningkat dan terbentuk daerah konvergensi sehingga angin baratan dari wilayah Indonesia menuju Pasifik kuat mengalir.

Gambar 6. Arus balik ekuator wilayah 20E-100W selama 20-27 Juni 1997
( Sumber: http://ds.data.jma.go.jp/ )
Gambar 7. Angin Zonal permukaan (1000 milibar) di lintang ekuator wilayah 20E-100W 20-27 Juni 1997
( Sumber: http://ds.data.jma.go.jp/ )
Status Indian Ocean Dipole (IOD)
Gambar 8. Indeks Dipole Mode
(Sumber: http://www.jamstec.go.jp/frsgc/research/d1/iod/)
Pada bulan Juni 2009, Dipole Mode Index (DMI) positif menunjukkan bahwa proses pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia bagian barat terutama Sumatera akan terpengaruh akibat perpindahan massa udara ke arah barat, namun pengaruh ini tidak akan terlalu kuat mengingat index berada dalam kisaran kurang dari +1. Analisis angin di ketinggian 10 m berdasarkan TXLAPS (Tropical eXtended Area Prediction System) dari Bureau of Meteorology (Australia) menunjukkan bahwa di atas wilayah Indonesia tidak tampak adanya wilayah konvergensi sebagai indikator untuk wilayah perawanan dan hujan, sebagai contoh diperlihatkan arah dan kecepatran angin pada 25 Juni 2009 (lihat Gambar 9).

Gambar 9. Analisis Angin pada ketinggian 10 meter 25 Juni 2009
berdasarkan TXLAPS (Tropical eXtended Area Prediction System)
( sumber: http://www.bom.gov.au/ )
Kondisi Monsun
Pola angin selatan Indonesia menunjukkan konsistensi adanya pengaruh daratan Australia yang menyebabkan kurangnya uap air di atas Indonesia bagian selatan meliputi Jawa, Sulawesi bagian selatan dan sebagian Sumatera bagian selatan (lihat Gambar 8).

Gambar 8. Pola angin pada (a) 28 Juni 2009 dan (a) 28 Juni 2008.
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/Asian_Monsoons/Asian_Monsoons.shtml
Indeks Monsun Pasifik-Asia, India, Australia
Indeks monsun Australia diprediksi berfluktuasi sekitar normal dengan simpangan cenderung dibawah normal menyebabkan sedikit hujan dan kecil kemungkinan adanya hujan dengan intensitas tinggi (lihat Gambar 9).
Gambar 9. Indeks monsun Australia
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/Asian_Monsoons/Asian_Monsoons.shtml
Indeks monsun India diprediksi berfluktuasi sekitar normal di awal Juli menguat dapat ditandai dengan kondisi cukup hujan, kemudian di pertengahan bulan melemah dapat menyebabkan anomali hujan dibawah normal di barat laut wilayah Indonesia (Gambar 10).
Gambar 10. Indeks monsun India
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/Asian_Monsoons/Asian_Monsoons.shtml
Kondisi MJO Dan OLR
Osilasi MJO selama Juni berada pada fase yang pasif, dan berlangsung di sekitar Afrika (lihat Gambar 11 (b)). Sementara kondisi OLR menunjukkan bahwa selama bulan Juni intensitas OLR meningkat dan berada pada indeks positif 1 hingga 2.5. peningkatan OLR ini memperlihatkan bahwa pembentukan awan di wilayah Indonesia sangat sedikit, sehingga pantulan radiasi gelombang panjang matahari dapat tertangkap sempurna oleh sensor satelit.

Gambar 11. (a) Kondisi OLR di wilayah lintang ekuator, dan (b) fase aktivitas MJO 20 Mei-28 Juni.
Sumber: www.cpc.noaa.gov/products/precip/CWlink/MJO/mjoupdate.ppt
Kesimpulan
Selama bulan Juni, suhu di Samudra Pasifik meningkat dan terjadi El Nino lemah (indeks mendekati +1). Dipole Mode Samudra Hindia dalam kondisi normal meski cenderung positif. Osilasi MJO berada pada fase pasif dan sedang terjadi di Afrika. Monsun Australia normal, dan India lemah-normal. Sejak pertengahan Juni (10 Juni) Indonesia telah memasuki musim kemarau yang normal dalam kondisi El Nino lemah.
Pada bulan Juli mendatang diprediksi monsun Australia normal, monsun Asia Timur-Pasifik melemah, monsun India akan menguat hingga pertengahan Juli lalu melemah. Indonesia bagian timur (Papua, Maluku, Halmahera, Sulawesi) akan lebih kering karena pengaruh El Nino lemah dan monsun Australia yang normal. Indonesia bagian barat laut akan mengalami kemarau yang sedikit basah karena pengaruh monsun India yang menguat hingga pertengahan Juni. Musim kemarau normal di Pulau Jawa karena lebih banyak dipengaruhi monsun Australia, namun jika El Nino menguat maka kemarau di Jawa akan lebih kering daripada biasanya. El Nino lemah hingga sedang diperkirakan terjadi hingga bulan Agustus 2009.
|