Evaluasi Kondisi Variabilitas Iklim Indonesia Selama Bulan Mei 2009 dan Prosfektifnya Beberapa Bulan Mendatang
Kondisi ENSO dan MJO Masih Normal Selama Bulan Mei
Sebenarnya, ada tiga faktor yang memengaruhi pola musim di Indonesia yaitu monsun, ENSO, Dipole Mode. Monsun adalah perilaku angin musiman yang terbentuk setiap enam bulan sekali di Indonesia. ENSO atau El Nino Souther Oscillation merupakan perilaku suhu permukaan laut di Pasifik selatan, terjadi tiap 3-7 tahun. Dipole Mode adalah perilaku suhu permukaan laut di Samudra Hindia, berulang tiap 4-5 tahun.
Penelitian menunjukkan bahwa ketiganya memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola musim di berbagai wilayah di Indonesia. Indonesia bagian timur lebih banyak dipengaruhi oleh ENSO, karena lebih dekat dengan Samudra Pasifik. Indonesia bagian tengah lebih banyak dikontrol oleh monsun. Sementara Indonesia bagian barat banyak diatur oleh Dipole Mode, mengingat wilayah ini dekat dengan Samudra Hindia.
KONDISI CURAH HUJAN
Curah hujan rata-rata selama bulan Mei di wilayah Indonesia berada di rentang 5 hingga 10 milimeter per hari seperti terlihat pada Gambar 1. Anomali negatif yang menunjukkan bahwa curah hujan sangat minim terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia kecuali Jawa yang memiliki curah hujan berlebih dari normal seperti ditunjukkan dengan nilai anomali positif sekitar 5 (lihat Gambar 2).

Gambar 1. Intensitas curah hujan bulanan, (2 Mei – 31 Mei 2009)
Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/thirty_day.html

Gambar 2. Anomali intensitas curah hujan bulanan, (2 Mei – 31 Mei 2009)
Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/thirty_day.html
Pantauan terhadap iklim ekstrem menunjukkan bahwa selama bulan Mei di wilayah Indonesia kondisi iklim normal meskipun di awal hingga pertengahan Mei terjadi siklon tropis Kujira di Filipina. Namun pada akhir Mei (20-26) seperti terlihat pada gambar 3, kekeringan meningkat di wilayah Papua. Hal ini sangat mungkin karena pengaruh Samudera Pasifik yang mengalami pemanasan dengan indeks sekitar 0.5 derajat Celcius.

Gambar 3. Kondisi iklim ekstrem mingguan, (20 Mei – 26 Mei 2009)
Sumber: http://ds.data.jma.go.jp/tcc/tcc/products/climate/sokuho.html
STATUS ENSO
Kondisi oseanografis di wilayah Samudera Pasifik dijelaskan dalam tiga gambar di bawah ini. Selama bulan Mei 2009, terjadi anomali SST positif di seluruh wilayah Pasifik. Meski demikian, anomali positif masih berada di kisaran suhu 0.5 derajat Celcius (Gambar 4.a). Hal ini juga dipertegas oleh Gambar 4.b, di mana terjadi kenaikan temperatur permukaan laut hingga kedalaman 200 meter di bawah permukaan laut dengan rentang kenaikan 1-5 derajat Celcius. Dari gambar 4.a dapat dilihat juga bahwa Selama Oktober 2008 - Februari 2009, anomali negatif suhu permukaan laut (SST) didominasi di pusat-pusat dan timur khatulistiwa Samudera Pasifik, dan selama Februari-April 2009, anomali negatif SST melemah di seluruh khatulistiwa pasifik sedangkan sejak awal Mei 2009, anomali positif SST telah teramati sepanjang khatulistiwa pasifik.
Pada Gambar 4 (a) dan (b) tersebut juga diperoleh pemahaman bahwa memang terjadi kenaikan SST di wilayah Samudera Pasifik antara 0.5 hingga 1 derajat Celcius. Pola kenaikan ini, merupakan pertanda awal kemungkinan terjadinya El Nino pada bulan-bulan berikutnya. Sehingga perlu diamati lebih detail mengenai kondisi SSt di wilayah Nino 3.4
Tabel 1. Persentase peluang kejadian El Nino-La Nina
Mei 2009-April 2010 (dari IRI dibuat Mei 2009)

Sumber: http://iri.columbia.edu/climate/forecast//sst/
Agar dapat mengetahui lebih jauh mengenai status terkini ENSO maka perlu diamati SST di wilayah Nino 3.4 seperti tampak pada Gambar 5(a). Terlihat bahwa selama Mei, indeks ENSOmenaik hingga 0.5 derajat Celcius. Kondisi ini masih menyatakan ENSO yang normal atau netral. Keadaan netral ini kemungkinan akan terjadi hingga bulan Juni mendatang dimana peluang terjadinya kondisi netral sekitar 70 persen (Gambar 5 (b) dan Tabel 1.). Meski begitu, perlu diwaspadai terjadinya El Nino pada bulan Juni, mengingat peluang terjadinya El Nino pun cukup besar yaitu 25 persen, sementara peluang La Nina hanya 5 persen.
PENGAMATAN KONDISI MONSUN
Gambar 6. Sirkulasi angin monsun pada 31 Mei 2009
Sumber:http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/Asian_Monsoons/Asian_Monsoons.shtml
Sirkulasi angin monsun pada 31 Mei 2009 menunjukkan bahwa angin tenggara dari Australia mulai melemah meskipun di bagian timur Indonesia masih kuat. Pelemahan monsun tenggara dari Australia ini menandakan curah hujan akan semakin berkurang karena angin yang membawa uap air akan digantikan dengan angin monsun Asia yang kering. Tampak pada gambar, angin monsun barat laut dari benua Asia yang bersifat kering melanda Sumatera bagian utara.

Gambar 7. Angin permukaan rata-rata bulanan Mei 2009 pada
ketinggian 850 milibar hasil running model CAM 3.1
Hasil running model CAM pada gambar (7) menggambarkan vektor angin permukaan pada ketinggian sekitar 850 milibar di wilayah Indonesia dan sekitarnya rata-rata bulanan selama bulan Mei 2009. Tampak pada gambar bahwa angin Pasifik dan Australia menguat semantara angin Asia melemah bahkan menghilang. Hal ini menandakan bahwa Indonesia segera memasuki musim kemarau.
PENGAMATAN INDEKS MONSUN PASIFIK-ASIA, INDIA, AUSTRALIA

Gambar 8. Indeks monsun Asia Timur-Pasifik Barat dan anomalinya
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/Asian_Monsoons/Asian_Monsoons.shtml
Fluktuasi indeks monsun Asia diprediksi menguat di atas normal sampai pertengahan Juni sehingga dapat menyebabkan anomali hujan di atas normal di bagian timur laut wilayah Indonesia (Sulawesi, Maluku, Papua).

Gambar 9. Indeks monsun Asia Australia dan anomalinya
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/Asian_Monsoons/Asian_Monsoons.shtml
Indeks monsun Australia diprediksi berfluktuasi melemah dan menguat dari normal. Kondisi inilah yang memungkinkan hujan masih turun di awal bulan Juni. Sementara pada pertengahan Juni hujan akan sangat minim terjadi di wilayah selatan Indonesia (Jawa, Madura, Bali, Lombok) terutama Pulau Jawa seiring berlangsungnya musim kemarau.
Gambar 10. Indeks monsun India dan anomalinya
Sumber:http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/Global_Monsoons/Asian_Monsoons/Asian_Monsoons.shtml
Indeks monsun India diprediksi berfluktuasi pada nilai normal di awal Juni dan melemah sampai pertengahan bulan Juni sehingga dapat menyebabkan anomali hujan di bawah normal di bagian barat laut wilayah Indonesia (Sumatra, Kalimantan).
Kondisi Atmosfer serta Interaksinya dengan Lautan di Wilayah Indonesia Mei 2009
Kondisi atmosfer di wilayah Indonesia diidentifikasi melalui curah hujan 3 jam-an dari TRMM. Curah hujan pada Mei 2009 pada umumnya lebih kecil dibanding curah hujan bulan April. Perbandingan curah hujan minggu terakhir bulan April dan mei diperlihatkan pada Gambar 11.

Gambar 11. Curah hujan minggu terakhir bulan April dan bulan Mei 2009
Fenomena interaksi atrmosfer-laut yang berpengaruh terhadap curah hujan di wilayah Indonesia yaitu El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang diparameterkan dengan indeks SOI dan DMI. SOI 3.4 menunjukkan nilai negatif (Gambar 12(a)) dan DMI (gambar 12(b)) menunjukkan nilai positif. Nilai SOI negatif menunjukkan bahwa suhu muka laut Pasifik timur lebih panas dibanding Pasifik barat dan ini menjadi indikasi bahwa peluang pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia berkurang. Jika SOI terus berkurang maka El Nino akan berada dalam status aktif.
Gambar 12. SOI Tiga tahun terakhir (a) dan DMI tiga tahun terakhir (b)
Sumber: http://www.jamstec.go.jp/frsgc/research/d1/iod/
Dipole Mode Index menunjukkan penurunan sampai mencapai nilai negatif pada minggu pertama bulan Mei, namun kemudian meningkat sampai mencapai sekitar +7 pada minggu terakhir Mei. DMI positif menunjukkan bahwa proses pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia bagian barat terutama Sumatera akan terpengaruh akibat perpindahan massa udara ke arah barat, namun pengaruh ini tidak akan terlalu kuat mengingat index berada dalam kisaran kurang dari +1. Dengan nilai DMI yang positif dan SOI yang cenderung negatif, maka proses pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia terganggu, seperti yang ditunjukkan dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan bulan April.
Kondisi MJO Selama Mei dan Prediksinya pada Juni 2009
Selama bulan Mei 2009, indeks MJO positif dengan nilai antara 0.5 hingga 1 terjadi di wilayah Indonesia (Gambar 13(a)). Dari pertengahan Maret ke Mei, pola bergantian dari tingkat rendah barat, timur dan anomali barat lagi bergeser ke arah timur dari Samudra Hindia melalui Pasifik Khatulistiwa yang terkait dengan MJO. Baru-baru ini, angin yang dekat dengan rata-rata di sebagian besar khatulistiwa tropis (Lihat Gambar 13 (b)). Hingga akhir Mei, MJO aktif terdeteksi berada di wilayah Pasifik barat (Gambar 13(c)) dan diprediksi MJO aktif masih akan berada di wilayah Pasifik barat hingga pertengahan Juni mendatang (Gambar 13(d)). Pola berkelanjutan dari anomali barat (timur) melalui Samudera Hindia (Samudera Pasifik Pusat) berada dari Oktober sampai pertengahan Maret.
Kesimpulan
Dari ikhtisar kondisi iklim selama bulan Mei 2009 dapat dijelaskan bahwa temperatur udara permukaan dan curah hujan di wilayah Indonesia dalam kondisi normal kecuali Jawa yang sebagian besar mendingin dengan curah hujan besar. Sementara itu Papua pada pekan terakhir di bulan Mei mengalami kekeringan ekstrem.
Sirkulasi monsun tenggara dari Australia sesaat pada 31 Mei 2009 menunjukkan pelemahan di seluruh wilayah Indonesia kecuali di sekitar Papua yang masih tampak menguat dan mendapat pengaruh dari monsun Pasifik. Monsun barat daya dari Asia berhembus di sekitar Sumatera bagian utara. Indeks monsun Pasifik dan Asia berada dalam kondisi normal, kecuali monsun India yang mengalami penguatan sangat signifikan dengan nilai anomali indeks sekitar positif 6 pada akhir Mei.
Kondisi ENSO normal selama bulan Mei (tidak terjadi El Nino maupun La Nina) tapi ada kecenderungan kenaikan SST yang dinyatakan dalam besaran indeks ENSO Nino 3.4 sebesar 0.5 derajat Celcius. Sementara itu, MJO aktif terjadi di wilayah Pasifik barat dan selama Mei indeks positif MJO terjadi di wilayah Indonesia pada rentang 0.5 hingga 1.
Prediksi bulan Juni, sirkulasi monsun Asia-Pasifik dan Australia akan sama-sama menguat sementara monsun India justru melemah hingga pertengahan Juni. Anomali indeks monsun Asia yang positif akan menyebabkan terjadinya anomali hujan di atas normal di bagian timur laut wilayah Indonesia (Sulawesi, Maluku). Indeks monsun India yang diprediksi melemah sampai pertengahan bulan Juni dapat menyebabkan anomali hujan di bawah normal di bagian barat laut wilayah Indonesia (Sumatra). Indeks monsun Australia diprediksi berfluktuasi melemah kemudian menguat kembali. Kondisi inilah yang memungkinkan hujan masih turun di awal bulan Juni. Sementara pada pertengahan Juni, hujan akan sangat minim terjadi di wilayah selatan Indonesia (Jawa, Madura, Bali, Lombok) terutama Pulau Jawa seiring berlangsungnya musim kemarau. Papua bahkan diprediksi mengalami kemarau yang ekstrem.
Di sisi lain, MJO aktif terjadi di Pasifik barat sehingga tidak akan banyak mempengaruhi awal musim kemarau di Indonesia. Sementara itu, peluang terjadinya El Nino pada Juni mendatang menguat dengan peluang sebesar 25 persen. Kondisi ini perlu diwaspadai, apalagi bulan Juni secara klimatologis merupakan awal kemarau di Indonesia. Adapun peluang La Nina sangat kecil yaitu sekitar 5 persen sehingga dapat diabaikan. Sehingga, kemungkinan pada awal Juni 2009 masih akan terjadi hujan dan awal musim kemarau 2009 diperkirakan akan mundur hingga pertengahan bulan Juni 2009 kecuali wilayah Papua yang telah memasuki musim kemarau lebih dulu. Diprediksi pula, pemanasan di Pasifik akan meningkat sehingga kemunculan El Nino pada bulan Juni patut diwaspadai.
|