ENGLISH SITEMAP SITUS INTERNAL          
 

 

>>> DINAMIKA ATMOSFER

 

Update : April 2009

 

Evaluasi Kondisi Variabilitas Iklim Indonesia Selama Bulan April 2009 dan Prosfektifnya Beberapa Bulan Mendatang

 

Secara umum curah hujan di wilayah Indonesia didominasi oleh adanya pengaruh beberapa fenomena, antara lain sistem Monsun Asia-Australia, El-Nino, sirkulasi Timur-Barat (Walker Circulation) dan Utara-Selatan (Hadley Circulation) serta beberapa sirkulasi karena pengaruh lokal (Mcbride, 2002). Variabilitas curah hujan di Indonesia sangatlah kompleks dan merupakan suatu bagian “chaotic” dari variabilitas monsoon (Ferranti (1997), dalam Aldrian (2003). Monsun dan pergerakan ITCZ (Intertropical Convergence Zone) berkaitan dengan variasi curah hujan tahunan dan semi-tahunan di Indonesia (Aldrian, 2003), sedangkan fenomena El-Nino dan Dipole Mode berkaitan dengan variasi curah hujan antar-tahunan di Indonesia.

Pola Curah Hujan

Dari pengamatan Satelit TRMM yang dilakukan oleh NASA, Amerika Serikat, curah hujan yang terjadi di Indonesia selama Bulan April 2009 tampak pada Gambar 1. Wilayah Indonesia yang memiliki curah hujan relatif tinggi antara lain Kalimantan, Sumatera Utara, Sulawesi bagian Timur dan Utara, Papua bagian tengah. Hujan yang relatif tinggi itu berkisar antara 5 sampai 20 milimeter per hari, diperlihatkan dengan warna hijau, kuning dan merah.

gbap091
Gambar 1. Intensitas curah hujan global bulanan (6 April 2009 –5 Mei 2009) dalam satuan mm/hari. Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/thirty_day.html

 

Status La-Nina/El-Nino


Selama Bulan Maret 2009, kondisi La Niña lemah terus dimana anomali suhu permukaan lautnya negatif pada daerah Samudera Pasifik ekuator dan timur seperti terlihat pada Gambar 2. Index Suhu Permukaan Laut (SST=Sea Surface Temperature) pada bulan Maret 2009 untuk NINO 3.4 yang masih saja bernilai negatif dengan nilai terakhir sekitar -0.5°C begitu juga dengan NINO 4 juga negatif berkisar -0.4°C dan NINO 3 berkisar -0.5°C, sedangkan pada NINO 1+2 nilainya positif yaitu 0.2°C. Sementara itu, kolam hangat (thermocline) di sepanjang ekuator pada kedalaman dengan suhu 20oC masih tetap basah daripada rata-rata di daerah pasifik timur jauh. Dari Gambar 2 juga dapat dilihat bahwa selama Oktober 2008 - Februari 2009, anomali negatif suhu permukaan laut (SST) didominasi di pusat-pusat dan timur katulistiwa Samudera Pasifik. Sejak Februari 2009, ada anomali negatif SST melemah di tengah-tengah dan timur Pasifik. Baru-baru ini, SST anomali di timur Pasifik telah meningkat.

 gbap092
Gambar 2. Anomali SST pada daerah-daerah Nino.
Sumber: http://www.cpc.noaa.gov/

Berdasarkan pengamatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Ekuator Nino 3.4 (yang dipercayai peneliti paling berpengaruh terhadap wilayah Indonesia), tampak bahwa suhu permukaan laut selama Maret 2009 berada pada kisaran -0.5 derajat Celcius. Kondisi ini termasuk ENSO normal. Dengan demikian, pengaruh Samudera Pasifik terhadap musim di wilayah Indonesia pada bulan Maret hingga April mendatang tidak signifikan atau dapat diabaikan (Lihat Gambar 3).


 gbap093
Gambar 3. Indeks NINO 3.4 menyatakan suhu permukaan laut di Pasifik ekuator
Sumber: Ocean Observation Panel for Climate (http://ioc3.unesco.org)

Peluang terjadinya La Nina dan normal pada April 2009 mendatang adalah 50 persen dan 49 persen. Sementara itu, peluang terjadinya El Nino sangat kecil yaitu mendekati nol (Gambar 4 dan 5). Di mana, peluang terjadinya kondisi ENSO normal tampak semakin menguat pada Mei dan Juni mendatang yaitu 64 persen.     

gbap094
Gambar 4. Probabilitas ENSO 
Sumber: The International Research Institute for Climate and Society ( www.portal.iri.columbia.edu )

gbap095
Gambar 5. Probabilitas ENSO 
Sumber: The International Research Institute for Climate and Society ( www.portal.iri.columbia.edu )

Pengamatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di wilayah Indonesia berkisar antara 30 derajat Celcius. Nilai anomali suhu permukaan laut positif di sekitar wilayah Indonesia, yakni +1 hingga +2 Celcius. Sementara itu, anomali negatif terjadi di wilayah Pasifik ekuator (5 Lintang Selatan; 170 Bujur Barat) dengan nilai sekitar -2 derajat Celcius. Meskipun memiliki anomali yang negatif, tapi luasan wilayah yang beranomali negatif di Pasifik ekuator bagian tengah tidak cukup besar untuk bias mempengaruhi keadaan musim di Indonesia. Dengan kata lain, suhu permukaan laut di kawasan Samudera pasifik ekuator masih berada di rentang kondisi yang normal (Gambar 6).

gbap096
Gambar 6. Anomali suhu permukaan laut di Pasifik ekuator,
Nilai rata-rata selama tujuh hari pada 8 April 2009
( Sumber: Climate Prediction Center http://www.cpc.noaa.gov )

Status Dipole Mode

Dari Gambar 7 dapat diketahui bahwa Selama Bulan Maret 2009, Dipole Mode cenderung positif dengan nilai di atas +0.5 derajat Celcius dan terus menaik mendekati nilai +0.8 derajat Celcius. Apa arti Dipole Mode positif? Keadaan ini mengakibatkan terbentuknya pusat tekanan rendah di dekat India. Sehingga, angin monsun basah yang terbentuk di kawasan Indonesia bagian barat (dekat Sumatra) tersedot ke India. Kondisi merupakan peringatan dini terhadap kemungkinan kekeringan yang akan menyongsong wilayah Indonesia bagian barat di musim peralihan (hujan menuju kemarau). Meskipun memasuki April, Dipole Mode semakin menurun mendekati kondisi normal bahkan menuju nol derajat Celcius. DMI positif mulai terjadi sejak bulan Februari 2009 sampai bulan April (nilainya antara 0.2-0.8). Artinya, di bagian timur Samudra Hindia (dekat Sumatra) terjadi pendinginan suhu permukaan laut dan sebaliknya pemanasan terjadi di Samudra Hindia barat. Akibatnya, uap air yang dibawa oleh monsun timur di wilayah Indonesia akan tersedot ke barat Samudra Hindia. Karena itu, sebagian Sumatra dan Jawa Barat akan lebih kering dibandingkan wilayah lain di Indonesia.      

gbap097
gbap098
Gambar 7. Indeks Dipole Mode di Lautan India dari pengamatan menggunakan Reynold OLV2. (www.jamstec.go.jp)

Fenomena global MJO / ISO

Gambar 8 menjelaskan bahwa pola anomali baratan memanjang dari Samudera Hindia ke Pusat Samudera Pasifik sejak Oktober 2008 namun sedikit jeda pada akhir Desember 2008 dan pertengahan Januari 2009. Penurunan anomali di barat laut di seluruh Indonesia pada pertengahan Januari 2009 itu terkait dengan aktivitas MJO. Selama pertengahan Maret 2009, anomali baratan bergeser ke arah timur dan angin mendekati nilai rata-rata. Pada Gambar 8 juga memperlihatkan bahwa selama akhir Februari 2009 dan awal Maret 2009 konveksi telah ditingkatkan di seluruh Benua Maritim sedangkan kondisi kering yang jelas untuk bagian Brasil, namun pada pertengahan Maret 2009, konveksi telah disempurnakan dekat Papua Nugini sedangkan kondisi kering didominasi barat laut Australia. Pada akhir Maret 2009 konveksi bergeser ke arah timur sampai bagian South Pacific Convergence Zone (SPCZ), sedangkan kondisi kering berlanjut di atas Australia dan berkembang di atas Samudera Hindia.

gbap099
Gambar 8. Anomali angin zonal yang terdiri dari anomali baratan (berwarna orange) yang menggambarkan anomali arus barat ke timur dan anomali timuran (berwarna biru) yang menggambarkan anomali arus timur ke barat.
Sumber: http://www.cpc.noaa.gov/

Pola Angin Monsun

Indeks monsun Australia dan Pasifik Barat

Bulan Maret 2009 ditandai fluktuasi indeks sekitar garis normal dan menjadikan wilayah timur Indonesia dapat mengalami kondisi cuaca normal yaitu hujan cukup di sekitar ekuator wilayah ini (Lihat Gambar 9). Indeks monsun barat laut Pasifik bagian timur masih dalam area yang berdekatan dengan kondisi klimatologis sampai pertengahan Maret 2009 sehingga pengaruh monsun Pasifik ini akan seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga wilayah Indonesia timur diharapkan akan mengalami kondisi normal.


Indeks monsun Australia cenderung lemah dibanding kondisi normal klimatologisnya sehingga pengaruh Australia terhadap wilayah Indonesia bagian selatan akan lemah dan dapat menyebabkan rata-rata hujan yang tidak terlalu besar sampai pertengahan Maret 2009 (Lihat Gambar 10). Selama bulan Maret 2009 fluktuasi indeks monsun diatas normal diawal bulan dan cenderung disekitar normal dan dibawahnya diakhir bulan hal ini dapat menjadikan kondisi wilayah Jawa tengah dan timur mengalami cukup hujan diawal bulan dan normal di akhir bulannya.

gbap0910

gbap0911

Gambar 9. Indeks monsun di wilayah Pasifik barat laut dan Asia timur menunjukkan fluktuasi sekitar kondisi normal sampai pertengahan Maret 2009.
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/

Gambar 10. Indeks monsun Australia menunjukkan intensitas dibawah normal sampai pertengahan maret 2009.
Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/

Pola Sebaran Awan

gbap0912

Bagaimana proyeksinya ke depan ?. Sejak April 2009 hingga September 2009 (Gambar .12) nampaknya peluang terjadinya La-Nina akan terus berlanjut. Hal ini terlihat belum tampak adanya tanda-tanda jika nilai SST Nino 3.4 anomali mulai menghangat.


gbap0913
Gambar 12. Peramalan Anomali SST ( http://www.weather.gov.sg )


gbap0914
Gambar 13. Curah hujan outlook untuk kawasan ASEAN (Apr – Jun 2009)

Kesimpulan

Dari ikhtisar kondisi iklim selama bulan April 2009 dapat dijelaskan bahwa awan masih banyak terbentuk di wilayah Indonesia sehingga hujan masih sering terjadi pada bulan ini. Meski demikian, berdasarkan pantauan, kekeringan ekstrem terjadi di Indonesia bagian timur yaitu di wilayah Nusa Tenggara Timur. Monsun berada dalam kondisi normal, kecuali monsun Pasifik yang mengalami penguatan sangat signifikan dari kondisi klimatologis rata-ratanya. Kondisi ENSO normal selama bulan April (tidak terjadi El Nino maupun La Nina). Sementara itu MJO menguat dan terjadi di wilayah Indonesia (khususnya selama pertengahan April). Kombinasi antara monsun Asia-Pasifik dan MJO yang menguat ini mungkin telah berpengaruh terhadap kondisi atmosfer di musim transisi (hujan menuju kemarau) yang masih mengandung banyak uap air dan mendatangkan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia kecuali Indonesia bagian timur (Nusa Tenggara Timur).


Prediksi bulan Mei, sirkulasi monsun Asia-Pasifik masih akan terus menguat, MJO melemah dan telah keluar dari wilayah Benua Maritim Indonesia mendekati wilayah Afrika. Sementara itu, peluang terjadinya El Nino maupun La Nina sangat kecil atau dapat diabaikan. Sehingga, kemungkinan besar selama bulan Mei 2009, kelembaban atmosfer masih cukup tinggi, dan hujan masih akan terus terjadi hingga awal musim kemarau 2009 yang diperkirakan akan mundur hingga pertengahan bulan Juni 2009.  

 

 

<<< BACK ^ UP

Disajikan oleh


Bidang Pemodelan Iklim
Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim
Phone (022) 6037445 ; Fax. (022) 6037443
E-Mail: moklim@bdg.lapan.go.id
URL: http://www.bdg.lapan.go.id/moklim

 

 

 
 
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional - LAPAN
Jl. DR. Djunjunan 133 Bandung 40173 Indonesia
About site