Evaluasi Kondisi Variabilitas Iklim Indonesia Selama Bulan Maret 2009 dan Prosfektifnya Beberapa Bulan Mendatang
Benua Maritim Indonesia (BMI) yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil, dipisahkan oleh banyak laut dan selat, secara geografis berada pada posisi yang strategis, terletak di daerah tropis yang menerima radiasi matahari paling banyak, terletak diantara dua benua yang besar (Asia dan Australia) dan dua lautan yang besar pula (samudera Hindia dan Pasifik) menyebabkan wilayah BMI ini rentan terhadap variabilitas dan perubahan iklim. Fenomena iklim global seperti El-Nino, La-Nina, IOD (Indian Ocean Dipole), MJO (Madden Julian Oscillation), TBO (Tropospheric Biennial Oscillation) dan fenomena iklim regional seperti sirkulasi monsunal dari sistem monsun Asia Timur dan Tenggara, monsun Asia Selatan, monsun Australia Utara, daerah pertemuan angin antar tropis (angin pasat timur laut dan angin pasat tenggara) yang dikenal sebagai DKIT (Daerah Konvergensi InterTropis) atau ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) merupakan faktor utama penyebab terjadinya variabilitas iklim Indonesia, selain fenomena lokal di BMI sendiri seperti banyaknya gunung dan pegunungan serta panjangnya garis pantai.
Kondisi Cuaca Regional dan Pola Curah Hujan Indonesia
Kondisi Monsun Barat Daya (Northeast Monsoon) lemah pada awal Maret 2009 yang membuat kondisi Inter-Monsoon berlaku sebagai angin yang secara berangsur-angsur berubah dari timar laut dan variabel di wilayah ASEAN dari pertengahan Maret 2009 dan seterusnya. Musim kemarau terus bergerak ke atas sebelah utara wilayah ASEAN Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam. Namun, beberapa bagian wilayah bertahap terlihat berangsur-angsur aktivitas hujan pertengahan minggu kedua Maret 2009. Kondisi ini berbanding terbalik, dimana Negara-negara ASEAN (khususnya yang terletak di Belahan Bumi Selatan, BBS) yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura dimana kondisi cuacanya cukup basah pada beberapa hari di bulan Maret 2009. Selama bulan Maret itu pula diperkirakan kurang dari 50% dari curah hujan normal terjadi di atas Myanmar, Kamboja, dan bagian selatan Vietnam. Sebaliknya, negara-negara yang terletak di Negara ASEAN bagian utara menerima curah hujan di atas normal. Di Negara ASEAN bagian selatan, curah hujan normal dan di atas normal pada beberapa kawasan, Namur Sumatra bagian selatan, Kalimantan Selatan and Jawa menerima curah hujan di bawah normal. Presentase curah hujan di Indonesia pada bulan Maret 2009 dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2

Gambar 1. Persentase curah hujan normal pada bulan Maret 2009
Sumber: www.weather.gov.sg/wip/web/ASMC/Regional_Weather/
Dari pengamatan Satelit TRMM yang dilakukan oleh NASA, Amerika Serikat, curah hujan yang terjadi di Indonesia selama Bulan Maret 2009 tampak pada Gambar 2. Wilayah Indonesia yang memiliki curah hujan relatif tinggi antara lain Kalimantan, Sumatera Utara, Sulawesi bagian Timur dan Utara, Papua bagian tengah. Hujan yang relatif tinggi itu berkisar antara 5 sampai 20 milimeter per hari, diperlihatkan dengan warna hijau, kuning dan merah.

Gambar 2. Intensitas curah hujan global bulanan (3 Maret 2009 –1 April 2009) dalam satuan mm/hari. Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/thirty_day.html
Status La-Nina/El-Nino
Selama bulan maret 2009, kondisi La Niña lemah terus dimana anomali suhu permukaan lautnya negatif pada daerah samuderah pasifik ekuator dan timur seperti terlihat pada gambar 3. Index Suhu Permukaan Laut (SST=Sea Surface Temperature) pada bulan Maret 2009 untuk NINO 3.4 yang masih saja bernilai negatif dengan nilai terakhir sekitar -0.5°C begitu juga dengan NINO 4 juga negatif berkisar -0.4°C dan NINO 3 berkisar -0.5°C, sedangkan pada NINO 1+2 nilainya positif yaitu 0.2°C. Sementara itu, kolam hangat (thermocline) di sepanjang ekuator pada kedalaman dengan suhu 20oC masih tetap basah daripada rata-rata di daerah pasifik timur jauh.

Gambar 3. Anomali SST pada daerah-daerah Nino.
Sumber: http://www.cpc.noaa.gov/
Meningkatnya kecepatan angin timuran di lapisan bawah atmosfer dan angin Baratan di lapisan atas atmosfer terlihat di silang Lautan ekuator Pasifik selama Maret 2009 (Gambar 4). Kondisi ini terus berlanjut yang dihubungkan dengan meningkatnya upwelling, dan juga penurunan konveksi di central Lautan Pasifik dan juga peningkatan konveksi di Indonesia. Kombinasi inilah yang diduga menyebabkab terjadinya La-Nina.

Gambar 4 : Rata-rata (atas) dan anomali (bawah) vektor angin di lapisan bawah (850 hPa) yang diperoleh dari CDAS/Reanalysis. Nilai anomaly diperoleh dari nilai penyimpangan selama periode 1979-1995.
Sumber: http://www.cpc.noaa.gov/
Status Dipole Mode
Dari Gambar 5 dapat diketahui bahwa DMI positif sejak bulan Februari 2009 sampai bulan April (nilainya antara 0.2-0.8). Artinya, di bagian timur Samudra Hindia (dekat Sumatra) terjadi pendinginan suhu permukaan laut dan sebaliknya pemanasan terjadi di Samudra Hindia barat. Akibatnya, uap air yang dibawa oleh monsun timur di wilayah Indonesia akan tersedot ke barat Samudra Hindia. Karena itu, sebagian Sumatra dan Jawa Barat akan lebih kering dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

Gambar 5. Indeks Dipole Mode di Lautan India dari pengamatan menggunakan Reynold OLV2.
( www.jamstec.go.jp )
Fenomena global MJO / ISO
Gambar 6 menjelaskan bahwa pola anomali baratan memanjang dari Samudera Hindia ke Pusat Samudera Pasifik sejak Oktober 2008 namun sedikit istirahat pada akhir Desember 2008 dan pertengahan Januari 2009. Penurunan anomali di barat laut di seluruh Indonesia pada pertengahan Januari 2009 itu terkait dengan aktivitas MJO. Selama pertengahan Maret 2009, anomali baratan bergeser ke arah timur dan angin mendekati nilai rata-rata. Pada Gambar 11 menjelaskan bahwa selama akhir Februari 2009 dan awal Maret 2009 konveksi telah ditingkatkan di seluruh Benua Maritim sedangkan kondisi kering yang jelas untuk bagian Brasil, namun pada pertengahan Maret 2009, konveksi telah disempurnakan dekat Papua Nugini sedangkan kondisi kering didominasi barat laut Australia. Pada akhir Maret 2009 konveksi bergeser ke arah timur sampai bagian South Pacific Convergence Zone (SPCZ), sedangkan kondisi kering berlanjut di atas Australia dan berkembang di atas Samudera Hindia.

Gambar 6: Anomali angin zonal yang terdiri dari anomali baratan (berwarna orange) yang menggambarkan anomali arus barat ke timur dan anomali timuran (berwarna biru) yang menggambarkan anomali arus timur ke barat.
Sumber: http://www.cpc.noaa.gov/
Fenomena Iklim Regional Monsun
Dari Gambar 7 diketahui bahwa pada minggu pertama Maret 2009, monsun Australia terlihat menguat dan angin dari lautan India menguat sehingga pulau Jawa masih cukup kuat mendapat angin dari wilayah ini yang kaya akan uap air sehingga memungkinkan turunnya hujan diwilayah ini. Angin barat ini semakin melemah diwilayah selatan ini ketika mencapai wilayah Nusa tenggara. Monsun India yang beberapa pekan ini konsisten menyebabkan wilayah Sumatera belum banyak berubah dibanding pekan sebelumnya kecuali bagian utara yang mendapat pengaruh kuat dari seruak Cina selatan.
Indeks monsun Australia dan Pasifik Barat
Bulan Maret 2009 ditandai fluktuasi indeks sekitar garis normal dan menjadikan wilayah timur Indonesia dapat mengalami kondisi cuaca normal yaitu hujan cukup di sekitar ekuator wilayah ini (Lihat Gambar 8). Indeks monsun barat laut Pasifik bagian timur masih dalam area yang berdekatan dengan kondisi klimatologis sampai pertengahan Maret 2009 sehingga pengaruh monsun Pasifik ini akan seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga wilayah Indonesia timur diharapkan akan mengalami kondisi normal.
Indeks monsun Australia cenderung lemah dibanding kondisi normal klimatologisnya sehingga pengaruh Australia terhadap wilayah Indonesia bagian selatan akan lemah dan dapat menyebabkan rata-rata hujan yang tidak terlalu besar sampai pertengahan Maret 2009 (Lihat Gambar 9). Selama bulan Maret 2009 fluktuasi indeks monsun diatas normal diawal bulan dan cenderung disekitar normal dan dibawahnya diakhir bulan hal ini dapat menjadikan kondisi wilayah Jawa tengah dan timur mengalami cukup hujan diawal bulan dan normal di akhir bulannya.

|

|
Gambar 8. Indeks monsun di wilayah Pasifik barat laut dan Asia timur menunjukkan fluktuasi sekitar kondisi normal sampai pertengahan Maret 2009. Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/ |
Gambar 9. Indeks monsun Australia menunjukkan intensitas dibawah normal sampai pertengahan maret 2009. Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/ |
Bagaimana proyeksinya ke depan ?. Sejak April 2009 hingga September 2009 (Gambar .10) nampaknya peluang terjadinya La-Nina akan terus berlanjut. Hal ini terlihat belum tampak adanya tanda-tanda jika nilai SST Nino 3.4 anomali mulai menghangat.

Gambar 10. Peramalan Anomali SST ( http://www.weather.gov.sg )
Ringkasan
Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa fenomena La-Nina atau netral nampaknya masih akan terus berlanjut paling tidak hingga April 2009 mendatang seperti nampak pada Gambar 11 .

Gambar 11. Curah hujan outlook untuk kawasan ASEAN (Apr – Jun 2009)
|