Variabilitas Iklim Indonesia Februari
dan Prediksi Maret 2010
Kondisi Curah Hujan
Intensitas curah hujan rata-rata di wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) selama periode 3 Februari - 3 Maret 2010 menunjukkan curah hujan hampir merata di seluruh wilayah antara 5-20 mm/hari, kecuali Kalimantan bagian timur curah hujan antara 2-3 mm/hari. Curah hujan maksimum (lebih dari 20 mm/hari) terjadi di sebagian Sumatera bagian selatan dan tengah, seluruh Jawa, Papua bagian timur dan tengah. Sementara itu di sebagian besar Sulawesi, Kalimantan tengah, Indonesia bagian timur (NTB, NTT, Lombok, Maluku, Halmahera) curah hujan memiliki intensitas 5-10 mm/hari.


Gambar 1. Intensitas curah hujan rata-rata 30 hari terakhir, dari tanggal 3 Februari-3 Maret 2010; dalam satuan mm/hari. (Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov)
Anomali curah hujan rata-rata selama periode 3 Februari - 3 Maret 2010 diturunkan dari data 3B43, merupakan anomali curah hujan terhadap data klimatologis curah hujan 10 tahun (1998-2008). Wilayah BMI yang mengalami anomali curah hujan positif antara 5-15 mm/hari yaitu Sumatera bagian selatan dan tengah, sebagian besar Jawa, sebagian kecil Kalimantan bagian barat, Papua bagian selatan. Sedangkan Kalimantan bagian utara dan barat, sebagian besar Sulawesi masih mengalami anomali curah hujan negatif antara -5 hingga -8 mm/hari. Lihat Gambar 2.
Gambar 2. Anomali intensitas curah hujan rata-rata 30 hari terakhir, tanggal 3 Februari-3 Maret 2010; dalam satuan mm/hari. (Sumber: http://trmm.gsfc.nasa.gov)
Kondisi Iklim Ekstrem
Selama bulan Februari, terjadi satu kali iklim ekstrem di Benua Maritim Indonesia. Kondisi ekstrem panas terjadi di Sumatra bagian tengah dan selatan, seluruh Jawa, Bali, Lombok pada pekan kedua (10-16 Februari), lihat Gambar 3-6.
|

|
Gambar 3. Kondisi iklim ektrem, minggu ke-1 Februari 2010. |
Gambar 4. Kondisi iklim ektrem, minggu ke-2 Februari 2010. |

|

|
Gambar 5. Kondisi iklim ektrem, minggu ke-3 Februari 2010. |
Gambar 6. Kondisi iklim ektrem, minggu ke-4 Februari 2010. |
Sumber Gambar 3-6: http://ds.data.jma.go.jp/tcc/tcc/products/climate/sokuho.html |
Kondisi Samudera Pasifik
Kolam hangat di Pasifik selama 25 Februari sampai 1 Maret terjadi hampir merata di wilayah Samudra Pasifik (160 Bujur Timur – 100 Bujur Barat) sampai hingga kedalaman 200 meter. Pada wilayah Pasifik timur (100 - 140 Bujur Barat) kolam hangat bahkan berada pada kedalaman hingga 450 meter. Anomali suhu tertinggi (lebih dari 60C) berada di kawasan Pasifik Timur (120-160 Bujur Barat) dengan kedalaman 150 meter. Lihat Gambar 7.
Gambar 7. Anomali SST terhadap kedalaman (meter) di Pasifik ekuator 25 Februari-1 Maret 2010
( Sumber: http://www.cpc.noaa.gov )
Tampak juga peningkatan suhu permukaan laut (SST) yang hampir merata sebesar 10C hingga 2.50C. peningkatan suhu tertinggi yaitu 2.50C terkonsentrasi di Pasifik bagian tengah (sekitar 160 Bujur Barat), lihat Gambar 8.
Gambar 8. Suhu Permukaan Laut di Samudra Pasifik ekuator
(Februari 2009-Februari 2010). (Sumber: http://www.cpc.noaa.gov)
Sejak awal Februari hingga awal Maret 2010, indeks Nino 3.4 memiliki kecenderungan menurun menjadi 1.170C, demikian pula dengan indeks Nino 3 (0.930C) dan Nino 4 (0.990C). Meskipun terjadi penurunan suhu, namun keadaan suhu di Samudra Pasifik masih menunjukkan terjadinya El Nino sedang yang cenderung melemah.
 |

|

|
Gambar 9. Anomali suhu permukaan laut berturut-turut di kawasan Nino 3, Nino 3.4, Nino 4.
(Sumber: http://www.bom.gov.au) |
Berdasarkan prediksi model dinamik POAMA, Australia, El Nino cenderung semakin melemah setelah Februari 2010 hingga mencapai kondisi di sekitar normal pada bulan April 2010. Sementara itu, peluang terjadinya El Nino berdasarkan model statistik IRI Columbia, pada Maret 2010 masih 93 persen, peluang April adalah 82 persen, dan peluang Mei berkurang secara signifikan menjadi 38 persen sementara peluang normal lebih besar yakni 47 persen.
Kondisi Samudera Hindia
Suhu permukaan laut di Samudra Hindia berada dalam kondisi normal dengan nilai 0.070C, semakin turun dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada nilai 0.10C. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan awan dari Samudra Hindia dan proses konveksi di kawasan barat Indonesia masih berjalan normal. Kondisi ini diprediksi akan berlangsung hingga Oktober 2010 berdasarkan model POAMA BOM, lihat Gambar 11.
 |

|
Gambar 11. Indeks Dipole Mode di Samudra Hindia (kiri) dan Prediksinya (kanan)
5 Januari 2010 – 3 Februari 2010 (Sumber: http://www.bom.gov.au) |
Indeks SOI menunjukkan kecenderungan penurunan sangat tajam hingga pada level tekanan anomali -20 pada awal Februari 2010 lalu menaik menjadi -15 pada awal Maret 2010, lihat Gambar 12. Fakta penurunan indeks SOI ini tampaknya tidak menunjukkan konsistensi dengan pelemahan El Nino di Samudra Pasifik. Sebab, nilai indeks SOI yang negatif memperlihatkan bahwa tekanan permukaan di kawasan Tahiti lebih rendah dibandingkan dengan tekanan permukaan di kawasan Darwin. Akibatnya, pergerakan angin akan terjadi dari Darwin menuju Tahiti. Tidak konsistennya indeks SOI dengan indeks Nino 3.4 menunjukkan bahwa pemanasan suhu di Samudra Pasifik masih akan bertahan, terutama untuk bulan Maret. Meski demikian, indeks SOI telah memiliki kecenderungan naik, sebagai penanda yang baik bahwa El Nino melemah.

Gambar 12. Indeks SOI (Southern Oscillation Index)
Januari 2008 – Februari 2010 (Sumber: http://www.bom.gov.au)
Kondisi Monsun
|

|
Gambar 13. Kondisi angin monsun 28 Februari 2010 (kiri) dan 28 Februari 2009 (kanan)
Sumber: http://iprc.soest.hawaii.edu |
Pola angin di atas Pulau Jawa pada 28 Februari menunjukkan bahwa pengaruh daratan Australia cukup kuat sehingga membelokkan angin barat yang berasal dari Samudra Hindia menjadi angin selatan, lihat Gambar 13 (kiri). Kondisi ini terlihat tidak konsisten dengan angin 28 Februari 2009 (kanan), di mana di atas Jawa masih didominasi angin barat yang kuat. Kondisi angin ini sekaligus menunjukkan bahwa keberadaan uap air di selatan Jawa tidak terlalu stabil karena pola angin selatan tidak mencerminkan angin di musim hujan. Oleh karena itu hujan di atas Jawa pun menjadi tidak stabil.
Angin barat yang kuat juga tidak tampak di atas Sumatera, Kalimantan, Papua. Padahal pada tahun sebelumnya, seruak angin dari laut China Selatan memperkuat angin barat di atas Sumatera, Kalimantan, Papua sehingga berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan di wilayah tersebut.
Indeks monsun Australia diprediksi menguat di atas normal pada awal hingga pertengahan Maret. Kondisi ini dapat mengurangi intensitas hujan untuk wilayah selatan Indonesia, lihat Gambar 14. Indeks monsun India diprediksi normal sampai pertengahan Maret. Kondisi ini dapat menyebabkan hujan di bawah normal di barat wilayah Indonesia seperti Sumatera. Lihat Gambar 15. Indeks monsun Asia-Pasifik diprediksi normal sampai pertengahan Maret. Kondisi ini masih dapat menyebabkan hujan normal bagi wilayah timur Indonesia. Seperti pada Gambar 16.
|

|
Gambar 14. Indeks monsun Australia dan anomalinya
Sumber: http://iprc.soest.hawaii.edu |

|

|
Gambar 15. Indeks monsun India dan anomalinya
Sumber: http://iprc.soest.hawaii.edu |

|

|
Gambar 16. Indeks monsun Asia-Pasifik dan anomalinya
Sumber: http://iprc.soest.hawaii.edu |
Kondisi MJO

Gambar 17. Anomali OLR mingguan 31 Januari- 1 Maret 2010
Sumber: www.cpc.noaa.gov
Perubahan OLR selama bulan Januari tampak homogen selama Februari. Pada pekan pertama hingga ketiga, OLR memiliki nilai anomali positif antara 30-40 W/m2 yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, lihat Gambar 17. Variasi yang cukup signifikan terjadi di Samudra Pasifik, yang memiliki nilai anomali OLR negatif 30-40 pada pekan pertama. Pada pekan kedua dan ketiga, luasan pendinginan OLR ini semakin berkurang cakupannya hingga hanya terkonsentrasi di Pasifik tengah ekuator. Sementara bagian barat dan timur Pasifik, menghangat.
MJO sejak awal hingga pertengahan Februari berada dalam status aktif dan kuat di wilayah Samudra Pasifik bagian barat, kemudian berubah menjadi lemah dan berada di Benua Maritim Indonesia. Sementara itu, berdasarkan prediksi model NCEP GFS, MJO pada Maret (3-17) akan berada dalam kondisi aktif dan kuat terjadi di wilayah di wilayah Afrika. Lihat Gambar 18 dan 19.
Kondisi Monsun dan Sirkulasi Hadley Bulan Februari 2010
Dalam artikel ini dibahas mengenai kondisi rata-rata pada bulan Februari 2010 dari variabel-variabel atmosfer yang dapat dijadikan sebagai indikator siklus monsun dan sel Hadley. Cakupan area yang menjadi ruang lingkup pembahasan adalah wilayah Asia Tenggara dan Australia bagian utara (90o – 150oBT , 20oLS – 20oLU). Variabel-variabel tersebut adalah komponen angin zonal, meridional, serta angin vertikal yang didefinisikan sebagai negasi dari variabel omega.

Gambar 1 Rata-rata komposit omega dan profil angin pada level 850 mb.
Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa angin monsun Asia timur pada bulan Februari 2010 masih bergerak menuju barat daya oleh karena efek Coriolis, dan berkonvergensi dengan angin dari selatan di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini semakin terlihat jelas bahwa rata-rata angin vertikal ke atas (omega negatif) terlihat kuat di atas wilayah Sumatera Barat dan Riau, Kalimantan Timur, serta Jawa Timur dan Bali. Komponen angin vertikal yang terlihat kuat mengarah ke atas (updraft) ini menandakan bahwa di wilayah-wilayah tersebut terjadi penguatan aktifitas konveksi yang berpotensi meningkatkan curah hujan.

Gambar 2 Rata-rata presipitasi bulan Februari 2010 data GPCC (kontur warna dalam mm) dan taksiran presipitasi (kontur titik-titik dalam mm/day).
Aktifitas konvektif yang ditandai oleh adanya updraft yang kuat di sebagian besar wilayah Indonesia, dibuktikan oleh presipitasi tinggi di wilayah yang sama. Terutama di Sumatera Barat, dan Jawa. Dengan demikian, konvergensi angin pada level 850 mb bulan Februari 2010 di atas sebagian besar wilayah Indonesia sebagai representasi Sel Hadley, memicu penguatan aktifitas konvektif dan berpotensi meningkatkan curah hujan.
|