Pendahuluan

Kesetimbangan energi dari matahari ke bumi dan proses interaksi atmosfer, lautan, dan daratan pada saat ini mulai terganggu karena meningkatnya aktivitas manusia yang meningkatkan gas-gas rumah kaca di atmosfer dan menimbulkan efek pemanasan. Konsentrasi gas rumah kaca yang semakin tinggi ini ditengarai menjadi penyebab peningkatan suhu permukaan bumi sebagai indikator adanya perubahan iklim.

 

  Aktivitas manusia dalam penggunaan bahan bakar fosil dan kebakaran hutan selain akan memperburuk kualitas udara juga akan meningkatkan konsentrasi gas karbondioksida (CO2) yang berpengaruh besar terhadap perubahan iklim. Selain itu aktivitas pertanian yang banyak memanfaatkan pupuk buatan akan menghasilkan gas nitro oksida (N20), pembusukan sampah yang menghasilkan gas metana (CH4), kegiatan industri, dan penggunaan Freon juga menjadi penyumbang gas rumah kaca.

 

 Perubahan iklim telah banyak disampaikan oleh para pakar iklim dan menjadi isu besar dunia saat ini. Walaupun perubahan iklim sendiri terjadi secara perlahan dan membutuhkan waktu yang cukup panjang, tetapi akan berakibat serius di muka bumi. Menurut laporan ke empat IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) telah terjadi kenaikan suhu global rata-rata 0,76 oC antara periode 1850-2005, kenaikan permukan air laut rata-rata global 1,8 mm per tahun dari 1961-2003, dan terjadinya kekeringan yang lebih intensif dengan area yang semakin luas sejak tahun 1970 untuk daerah tropis dan sub tropis.

 

 Perkembangan sains dan teknologi sangat membantu memahami interaksi antara atmosfer, laut, dan daratan dalam prediksi cuaca dan iklim, baik secara stokastik (deret waktu, regresi) maupun deterministik (berdasarkan hukum fisika yang dituangkan dalam persamaan matematik dan model). Kemajuan sains dan teknologi prediksi iklim selain dari sisi fisika atmosfer tentunya juga perlu dukungan dari kimia atmosfer. Perpaduan antara kondisi fisika dan kimia atmosfer diharapkan akan meningkatkan hasil prediksi iklim terutama di Indonesia. Institusi yang terkait dalam pengamatan atmosfer dan pengembangan model prediksi iklim dan kualitas udara di Indonesia seperti LAPAN, BMKG, Deptan, BPPT, dan beberapa Perguruan Tinggi perlu duduk bersama untuk saling menyampaikan kemajuan penelitian yang dilakukan serta menyatukan persepsi yang sama untuk mendapatkan kajian observasional iklim dan kualitas udara serta modelnya yang cocok untuk dikembangkan dan diterapkan di Indonesia. Khususnya untuk mendapatkan gambaran 5 tahun mendatang dan jangka panjang dalam seminar nasional “Proyeksi Iklim dan Kualitas Udara 2010-2014”.

 



Biaya Seminar

Peserta seminar tidak dipungut biaya. Akomodasi dan transportasi sepenuhnya di tanggung peserta seminar.

 

Peserta

Peserta seminar berasal dari kalangan peneliti, praktisi, akademisi, asosiasi profesi, pengambil kebijakan, LSM, dan undangan.