Jalan raya merupakan sumber emisi berbagai polutan udara dengan beban emisi yang semakin tinggi bila terjadi kemacetan. LAPAN Bandung telah melakukan monitoring polutan CO, NO, NO 2, dan SO 2 pada udara ambient sejak awal tahun 2008. Sumber lokal polutan tersebut berasal dari kegiatan domestik dan transportasi
Dalam kajian polutan udara tak lepas dari faktor meteorologi. Kondisi meteorologi berpengaruh terhadap dispersi polutan dari sumbernya. Arah dan kecepatan angin serta kestabilan atmosfer sangat berpengaruh pada penyebaran polutan. Dalam makalah ini dikaji polutan dari Jalan Djundjunan, emisi dan penyedengan monitoring AQMS dan arah angin yang disajikan dalam bentuk windrose.
Data polutan NO, NO 2, SO 2, dan CO dipantau dengan menggunakan Air Quality Measurement System (AQMS). Data yang dianalisis adalah rata-rata harian dan rata-rata bulanan konsentrasi NO, NO 2, SO 2, dan CO dari pengamatan setiap 30 menit. Posisi sensor pengamatan terhadap Jalan Djundjunan dapat dilihat pada Gambar
Lokasi pengamatan terhadap posisi jalan raya
Untuk mengetahui pengaruh emisi jalan raya dianalisis arah angin dominan yang digambarkan dalam bentuk wind rose dengan menggunakan software WRPLOT Viev.
Jika ada kenaikan polutan ketika arah angin dari jalan raya (dari barat laut, utara sampai timur) berarti emisi dari jalan raya berpengaruh terhadap konsentrasi udara ambien pada lokasi yang diamati. Tetapi sebaliknya jika tidak ada kenaikan konsentrasi ketika angin bertiup dari arah barat laut, utara dan sampai timur berarti tidak ada pengaruh langsung emisi dari jalan raya terhadap konsentrasi udara ambien di lokasi pengamatan.
Menurut lampiran Peraturan Pemerintah nomor 41 Tahun 1999 tentang baku mutu udara ambien nasional, bahwa baku mutu udara ambien selama pengamatan satu hari untuk CO, NO 2, dan SO 2 adalah sebagai berikut 8,734 ppm, 80 ppb, dan 139 ppb.
Dari pengamatan terlihat kesamaan pola polutan konsentrasi rata-rata harian CO, NO, dan NO 2 yang rendah pada bulan Februari dan tinggi pada bulan Maret – Mei. Sedangkan polutan SO 2 juga rendah pada bulan Februari meningkat konsentrasinya pada bulan Agustus dan September. Kesamaan pola CO, NO, dan NO 2 serta perbedaan pola SO 2 terlihat jelas jika dilihat pada rata-rata bulanan seperti gambar dibawah
Rata-rata bulanan konsentrasi polutan
Untuk mengetahui pengaruh emisi dari Jalan Djundjunan ditinjau dari arah angin dominan yang disajikan dalam bentuk windrose setiap bulannya.
Windrose di sini juga menyajikan arah angin dominan bertiup dari arah mana. Dan polutan yang dimonitor di sini dikaji dari mana arah sumbernya dengan melihat arah angin yang dominan
Arah angin dominan di Bandung
Karena tidak ada kenaikan konsentrasi polutan ketika angin bertiup dari arah Jalan Djundjunan, maka diduga polutan dari Jalan Djundjunan terperangkap oleh bangunan yang berada di tepinya seperti street canyon. Dalam street canyon model dibedakan menjadi dua, yaitu arah angin tegak lurus jalan dan arah angin searah jalan .
a) arah angin searah jalan. b)arah angin tegak lurus jalan
Ketika arah angin searah jalan polutan mengalir seperti air dalam sungai. Dan jika arah angin tegak lurus jalan polutan terperangkap di atas area jalan, kecuali ada turbulensi yang mampu mengangkat polutan melewati gedung
Faktor topografi dan roughness (kekasaran) permukaan tanah, serta bangunan di tepi jalan dapat menyebabkan polutan terperangkap dalam suatu area yang tidak jauh dari sumbernya. Oleh karena itu bisa jadi polutan dari Jalan Djundjunan terperangkap di daerah sekitarnya oleh gedung dan perumahan yang berada di sekitarnya, sehingga menyebabkan konsentrasi polutan di daerah pengamatan tinggi tetapi tidak terpengaruh oleh arah angin. Karena konsentrasinya tidak terpengaruh oleh arah angin, maka konsentrasi polutan di daerah pengamatan dapat dikatakan sebagai konsentrasi udara ambien di daerah urban di Bandung
|